Senandung Kehidupan dari Pinggir Kanopi Batutegi

  

Petani kawasan Hutan Lindung Batutegi, Sri Atmiyatun (45), mengaduk pupuk cair dari urine kambing di rumahnya, Register 22 Way Waya, Lampung,  Jumat, 4 April 2025.

Lampungpride-- Suara kambing bersahutan dari kandang sederhana di samping rumah papan milik Sri Atmiyatun. Di belakang kandang itu, sebuah drum plastik berwarna biru berdiri terbuka. Sri menggenggam sebatang kayu panjang, lalu mengaduk cairan kecokelatan yang mengeluarkan aroma menyengat.

“Ini pupuk cair dari kencing kambing,” katanya sambil tersenyum.

Bagi sebagian orang, cairan itu mungkin hanya limbah. Namun di tangan Sri, limbah berubah menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanah. Dari tempat terpencil di kawasan hutan lindung Batutegi, perempuan berusia 45 tahun itu membangun harapan dari sesuatu yang sering dipandang tak bernilai.

Sri berasal dari Sendang Asih, Lampung Tengah. Pada 2017, ia mengikuti suaminya meneruskan lahan milik kerabat yang pulang ke Jawa. Di kawasan Register 22 Way Waya yang berbatasan langsung dengan blok inti hutan itulah ia memulai hidup dari awal dengan mengelola kebun seluas sekitar satu hektare yang ditanami kopi, kemiri, durian, jengkol, petai, pala, hingga pinang.

“Kerja di kebun sama saja seperti laki-laki. Waktunya menunas ya menunas, waktunya mutil (memetik) ya mutil,” ujarnya.

Musim hujan menjadi tantangan tersendiri. Jalan berubah licin, pekerjaan melambat, dan hasil panen sering tak menentu. Namun Sri tak pernah menjadikannya alasan untuk berhenti.

“Kami nggak mundur, tetap maju,” ujar ibu satu anak ini.

Tempatnya menetap berdiri jauh dari pusat keramaian. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sesekali ia harus menuruni gunung menuju pusat kota dengan menempuh waktu 2 jam perjalanan. Karena itu, hidup di tengah hutan membuatnya terbiasa memanfaatkan apa yang tersedia di alam.

“Di kampung, saya gak punya tempat tinggal. Makanya saya tinggal di sini. Dari tempat ini saya mau maju dan punya harapan,” tambahnya.

Harapan itu perlahan menemukan arah ketika ia bergabung dengan sekolah lapang yang diselenggarakan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada tahun 2017.

Awalnya, ia hanya ingin belajar bercocok tanam agar hasil kebunnya meningkat. Namun, dari pertemuan-pertemuan rutin itu, Sri mulai memahami bahwa keberlangsungan kebun yang menghidupi keluarganya bergantung juga pada kesehatan hutan Batutegi.

Di sekolah lapang itu pula, Sri mempelajari praktik-praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Ia diajarkan membuat pupuk organik padat, pupuk cair dari urine kambing, pestisida nabati, hingga mengolah minyak kemiri. Ia juga menerima bibit tanaman serbaguna MPTS (Multi Purpose Tree Species) seperti pala dan pinang untuk ditanam berdampingan dengan tanaman kopi, sehingga kebun tetap produktif tanpa harus memperluas bukaan lahan ke dalam hutan.

“Sedikit demi sedikit pengetahuan kami bertambah,” katanya.

Perubahan tidak selalu datang tanpa perlawanan. Saat pertama mengikuti pelatihan, sebagian orang memandang langkah Sri dengan berbeda. Mereka menganggap perempuan semestinya cukup berada di dapur.

Tekad Sri tak luntur karena pandangan itu. Ia tidak membiarkan orang lain membatasi langkahnya. Sri memulai semuanya dengan rasa ingin tahu, lalu belajar setiap kesempatan yang datang. Setelah menguasai keterampilan baru, ia terus mencoba berbagai hal, dan mengembangkan kemampuannya agar dapat bermanfaat.

Semangat itu tidak berhenti di halaman rumah Sri.

Di sudut Lanskap Batutegi lainnya terlihat asap tipis mengepul dari dapur produksi di Dusun Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan. Aroma pisang yang baru terangkat dari penggorengan memenuhi ruangan. Tawa dan obrolan ringan mengalir di sela kesibukan para perempuan. Sebagian tangan lincah mengiris tipis pisang, sebagian lainnya menggoreng, lalu mengemasnya ke dalam plastik bening. Sedangkan, rak kayu di sudut ruangan, terisi bungkus kopi bubuk dan botol-botol minyak kemiri yang berjajar rapi, menunggu giliran dipasarkan.

Pada 2023, sepuluh perempuan membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bumi Tani Sejahtera melalui YIARI.

“Awalnya YIARI memotivasi ibu-ibu supaya bisa mandiri dan punya kegiatan,” kata Nurul, ketua KUPS.

Langkah mereka bermula dari kebun. Cabai, tomat, dan bawang sempat menjadi tumpuan harapan, tetapi lahan pinjaman yang terbatas membuat usaha itu tidak bertahan lama. Mereka lalu beralih ke peluang lain. YIARI kemudian mengenalkan peternakan ayam, pupuk organik dari limbah ternak, hingga pengolahan hasil kebun.

“Yang pertama kami senang dapat ilmu. Tadinya kami gak tahu bikin pupuk dari kotoran hewan,” ujarnya saat diwawancari pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Jalan Nurul dan kawan-kawan belum sepenuhnya mulus. Distribusi produk masih terbatas sehingga pemasaran baru menjangkau wilayah sekitar Datar Lebuay. Namun, bagi mereka, perubahan terbesar bukan semata bertambahnya penghasilan, melainkan tumbuhnya rasa percaya diri dan kesadaran bahwa menjaga hutan dapat tumbuh berdampingan dengan aktivitas sehari-hari.

Jika dapur produksi menjadi ruang belajar bagi Nurul dan kawan-kawannya, maka Tamar Widadi menemukan ruang lain. Saat itu, suasana taman baca Jalosi Sanak Negeri mulai lengang. Hanya sesekali terdengar suara anak-anak yang masih bermain di halaman.



Tamar Widadi menata kembali rak-rak buku di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, Pekon Air Kubang, Tanggamus, Lampung, Sabtu, 4 Juli 2026.

Tamar berdiri di depan rak-rak buku yang mulai penuh. Jemarinya menyelipkan satu per satu buku ke celah yang masih kosong, lalu menggeser beberapa judul agar tersusun lebih rapi. Sesekali pria itu berhenti, membaca sekilas sampul buku yang sudah lusuh karena berpindah dari tangan ke tangan. Di sudut bangunan berdinding bata tanpa plester itu, aroma kertas bercampur dengan semilir angin yang masuk dari jendela kayu. Tak ada kesan mewah, tetapi rak-rak itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tumpukan buku.

Keputusan membangun taman baca lahir dari panggilan hatinya. Ia memilih pulang ke kampung halamannya karena ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Perjalanan itu dimulai dengan sederhana pada tahun 2015. Hanya sekitar sepuluh buku bekas yang ia beli menggunakan uang saku saat dirinya merantau. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari merancang konsep hingga menjalankan kegiatan.

“Saya memang ingin pulang kampung dan melakukan sesuatu untuk masyarakat sekitar,” ujarnya.

Perlahan, jumlah koleksi buku terus bertambah. Kini rak-rak kayu di taman baca itu menampung sekitar 1.500 eksemplar buku dan menjadi ruang belajar bagi anak-anak Pekon Air Kubang, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus.

Perubahan besar datang pada 2020 ketika YIARI mulai menggelar kegiatan di taman baca tersebut. Awalnya Tamar tak menyangka kolaborasi itu berkembang menjadi pendampingan yang berkelanjutan.

Sejak saat itu, taman baca Jalosi Sanak Negeri tak lagi hanya menjadi tempat membaca. Ruang kecil itu berubah menjadi tempat anak-anak belajar tentang satwa liar, hutan, dan pentingnya menjaga lingkungan.

Sebelum mengenal YIARI, isu konservasi belum menjadi fokus kegiatan Tamar. Namun pendampingan yang dilakukan perlahan mengubah arah gerakan taman baca.

“Tujuan utamanya sebenarnya perubahan mindset anak-anak. Mereka harus lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya.

Perubahan pola pikir itu menjadi penting karena selama bertahun-tahun masyarakat hidup berdampingan dengan satwa liar tanpa memahami perannya dalam ekosistem.

Salah satu contohnya adalah kukang sumatera (Nycticebus coucang). Dahulu, sebagian warga menganggap primata nokturnal ini sebagai hewan pengganggu sehingga sering dibunuh ketika ditemukan.

“Mereka tidak tahu kalau kukang adalah satwa yang dilindungi,” ungkapnya.

Karena itulah, anak-anak menjadi sasaran utama pendidikan konservasi. Tamar percaya pengetahuan yang mereka bawa pulang perlahan akan menular kepada orang tua di rumah.

Perubahan itu mulai terlihat.

Jika dulu anak-anak melempari kukang ketika bertemu di kebun atau jalan, kini mereka memilih membiarkannya tetap berada di habitatnya.

“Dulu kalau ketemu kukang ya dilempar,” ujarnya.

Menurut Tamar, mengubah perilaku masyarakat adalah hal yang paling penting karena manusia dan kukang hidup berdampingan di kawasan yang sama. Agar pesan konservasi mudah diterima, ia tidak mengajarkannya lewat ceramah panjang. Pendidikan lingkungan justru dikemas melalui permainan, menggambar, mewarnai, dan berbagai aktivitas seni yang dekat dengan dunia anak-anak.

Aji Mandala Putra, Supervisor Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Lanskap YIARI, menyaksikan perubahan itu dari dekat. Menurutnya, seluruh program pemberdayaan YIARI lakukan bertumpu pada satu gagasan sederhana yakni menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.

Pria berkacamata ini mengaku hal itu tidak mudah. Ia membutuhkan waktu lama hingga masyarakat yang ia dampingi percaya diri untuk terlibat dalam berbagai kegiatan.

“Kami ingin ibu-ibu punya ruang untuk berkreasi dan berinovasi,” ujarnya.

Selama lima tahun terakhir, lebih dari 700 petani dari lima gabungan kelompok tani mengikuti sekolah lapang, pelatihan kelembagaan, analisis SWOT, hingga penggunaan bibit MPTS bersertifikat. Sekitar 30–40 persen di antaranya kini menjadi penggerak aktif yang mengampanyekan pentingnya menjaga tutupan hutan.

Bagi Aji, Sri menjadi salah satu contoh keberhasilan pendampingan yang dilakukannya. Ia menilai keberhasilan tidak semata-mata diukur dari besarnya pendapatan masyarakat, melainkan dari perubahan perilaku mereka dalam memandang pentingnya menjaga hutan.

“Bu Sri bukan hanya menerapkan ilmu dari sekolah lapang, tapi juga mengembangkan sendiri pengetahuannya,” ungkapnya.

Napas Perhutanan Sosial di Batutegi

Dari udara, hutan Batutegi tampak seperti hamparan hijau yang memeluk Waduk Batutegi. Namun bentang alam seluas sekitar 58.174 hektare itu menyimpan fungsi yang jauh lebih besar. Ia menjadi daerah tangkapan air, menopang irigasi pertanian, memasok kebutuhan air masyarakat, sekaligus rumah bagi beragam satwa liar.

Data Analisis Hansen Global Forest Change dan RADD Forest Disturbance Alert menunjukkan laju kehilangan hutan dalam lima tahun terakhir cenderung menurun dibandingkan periode sebelum 2015. Sekitar 50.669 hektare kawasan masih berhutan, terdiri atas 44.317 hektare hutan sekunder dan 6.352 hektare hutan primer.

Meski demikian, ancaman belum benar-benar hilang. Sepanjang 2020 hingga November 2025, kehilangan tutupan kanopi masih mencapai 276,33 hektare pada hutan primer dan 668,32 hektare pada hutan sekunder serta tutupan lahan lainnya.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Lampung, Prof. Christine Wulandari, mengingatkan bahwa hilangnya tutupan hutan akan memicu persoalan yang jauh lebih besar.

“Kalau hutan gundul, erosi akan tinggi, sumber daya air cepat habis, satwa akan keluar dari hutan menuju permukiman,” katanya.

Selama lima tahun penelitian di kawasan Batutegi, timnya masih menemukan keragaman mamalia kecil, burung, hingga katak yang menunjukkan kondisi ekologis kawasan relatif baik. Namun, ia mengingatkan aktivitas perambahan dan pengambilan hasil hutan secara berlebihan masih terjadi. Karena itu, menurut Christine, konservasi tidak cukup hanya mengandalkan larangan.

“Masyarakat harus diberi alternatif pekerjaan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” jelasnya.

Ia menilai pendampingan kepada kelompok perempuan menjadi salah satu contoh bagaimana kesejahteraan dan konservasi dapat berjalan beriringan. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari mengelola hasil hutan secara lestari, motivasi untuk menjaga kawasan akan tumbuh dengan sendirinya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Bidang Penyuluhan, Pemberdayaan Masyarakat, dan Usaha Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Hendika Jaya Putra. Menurutnya, perhutanan sosial menjadi jalan untuk mempertemukan kepentingan konservasi dan kesejahteraan melalui pendampingan, agroforestri, serta penguatan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

“Perhutanan sosial ini salah satu strategi usaha kami untuk mewujudkan keseimbangan antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Di Lampung, kawasan hutan mencapai 925.608,5 hektare atau sekitar 27,42 persen luas wilayah. Sebanyak 319.386,90 hektare di antaranya merupakan hutan lindung. Di KPH Batutegi sendiri telah terbentuk 42 kelompok perhutanan sosial dengan luas kelola 39.428,68 hektare yang melibatkan sekitar 13.600 kepala keluarga.

Perjalanan Sri belum selesai. Esok, ia akan kembali menyusuri jalan setapak menuju kebun yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Masih ada rumput yang harus dipotong untuk kambing-kambingnya, pohon-pohon yang harus dirawat agar terus bertumbuh dan berbuah bersama harapannya.

Di Batutegi, hari-hari seperti itu terus berulang. Barangkali justru dalam pengulangan yang sederhana itulah konservasi menemukan maknanya, ketika manusia memilih hidup bersama hutan, bukan dengan menghabiskannya.***


Penulis: Revina Azzahra

Editor: Lutfi Yulisa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Footer