Film Kukang Tegang Mengingatkan Masyarakat untuk Lebih Peduli dengan Kelestarian Lingkungan
Lampung Pride-- Film Kukang Tegang dibuka dengan penemuan bangkai seekor kukang tergeletak di meja putih. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga dengan kaki tangan yang menegang kaku. Tepat di atasnya, empat lampu operasi memancarkan cahaya terang, menyingkap bagian-bagian tubuh satwa malang itu yang telah menghitam.
Bekas luka dan bercak hitam pada organ tubuh kukang menjadi alasan Shiva, mahasiswa magang di Pusat Rehabilitasi YIARI Bogor ingin tahu lebih dalam apa penyebab kematian kukang tersebut.Kisah perjalan investigasi Shiva mencari penyebab kematian Kukang membawa Shiva bergerak ke Lampung, tempat dimana kukang itu tercatat masih hidup.
Film dokumenter yang diproduksi oleh Garda Animalia dan Visualkan ini membawa penonton menelusuri desa di Air Naningan, Tanggamus, daerah konservasi kukang. Awalnya, Shiva mengira kukang tersebut mati akibat penyiksaan oleh pemburu liar atau pedagang ilegal. Namun, setelah melakukan penelusuran bersama aktivis YIARI di Air Naningan dan mewawancara beberapa tokoh, warga, serta akademisi, akhirnya Shiva menemukan jawaban bahwa Kematian kukang dengan ciri-ciri kaki tangan tegang /kaku dan hitam seperti luka bakar bukan karena penyiksaan hewan, melainkan karena sengatan listrik.
Gangguan jaringan listrik nyatanya juga bisa disebabkan dari binatang, salah satunya kukang. Sepanjang tahun 2024-2026 terdapat temuan bahwa 80,8% gangguan tertinggi oleh binatang selama tiga tahun terakhir disebabkan oleh kukang. Hal ini disampaikan oleh Manajer PLN UP3 Pringsewu, Eka Nurwati pada Selasa, 1 September 2026.
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Senior Manager Edukasi dan Panyadartahuan YIARI, Ismail Agung Rusmadipraja, berdasarkan pemantauan selama 10 tahun terakhir, jumlah kematian kukang akibat sengatan listrik melampaui data tren perdagangan ilegal kukang.
Selama 2019-2025, YIARI melakukan evakuasi terhadap 15 kukang korban elektrokusi di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, 10 diantaranya mati saat proses evakuasi, sedangkan 40 lainnya ditangani oleh Pusat Rehabilitasi YIARI Bogor, Jawa Barat.
Sayangnya, setelah penanganan medis, hanya 26 Kukang yang berhasil diselamatkan dengan 41,2 persen diantaranya dapat dilepasliarkan.
YIARI menyebut estimasi biaya yang dikeluarkan untuk proses penyelamatan dan rehabilitasi 51 kukang elektrokusi tersebut mencapai Rp1, 01 Miliar atau rata-rata Rp19, 8 Juta per kasus.
Upaya Mitigasi sebagai Cara mencari Solusi
Tingginya angka kasus sengatan listrik pada kukang disebabkan oleh habitat atau wilayah jelajah kukang yang bersinggungan dengan insfrastruktur jaringan listrik. Kukang menjadikan kabel-kabel listrik sebagai jalur lalu lintas.
Ismail mengatakan kondisi ini jika tidak dimitigasi maka akan berdampak pada kepunahan kukang dari kepunahan. Ia menyebut bahwa mitigasi dilakukan untuk mencari solusi bukan mencari siapa yang salah. Karena sengatan listrik pada satwa juga dapat memicu gangguan jaringan hingga pemadaman arus, akibatnya, selain merugikan PLN, pelanggan juga terdampak karena aktivitas ekonomi yang terganggu.
Beberapa aksi mitigasi yang dapat dilakukan adalah memetakan titik rawan jaringan listrik yang besinggungan dengan jalur jelajah kukang, mitigasi teknik jaringan seperti pemasangan cover/isolator, pengamanan titik rentan dan desain koridor yang aman dan ramah satwa, serta mendukung program rehabilitasi satwa korban dengan dukungan biaya penyelamatan, perawatan medis, pakan dan SDM.
Selain itu aksi kolaborasi juga dapat dilakukan dalam bentuk edukasi kepada masyarakat, respons cepat melapor ke BKSDA atau Damkar saat melihat Kukang di jaringan listrik, penerapan standar teknis jaringan ramah satwa pada skala nasional, serta melakukan riset prilaku kukang dan efektivitas alat penghalau kukang.
Dari film dokumenter Kukang Tegang menyadarkan masyarakat bahwa pembangunan infrastruktur energi juga harus ramah satwa dan menjaga keberlangsungan hidup kukang.***
